Syaikh Jamaluddin / Syaikh Merak / Syaikh Merah - Cilegon Banten


Sumber Photo:
http://www.cilegon.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=72&Itemid=111

Cilegon - Makam Syekh Djamaluddin, ulama yang semasa hidupnya dikenal dengan sebutan Syekh Merah, di dalam area Pelabuhan Merak, Banten, tampak ramai dikunjungi warga untuk ziarah menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1432 Hijriyah .
Masyarakat yang datang mengunjungi makam tersebut bukan saja dari sekitar Cilegon, akan tetapi juga dari luar Banten, antara lain ratusan jamaah Yayasan Al-Izhar asal Depok, Jawa Barat, yang berziarah dengan menggunakan tujuh bus.
"Di bulan ini, menjelang Ramadhan dua minggu lagi, kami ingin membersihkan diri dari segala dosa. Ziarah makam ini sebagai upaya kami untuk mendekatkan doa kami kepada Allah dengan perantara ulama suci yang hidupnya penuh karomah ini," kata ketua rombongan peziarah, KH Badrudin, di areal pemakaman di Pelabuhan Merak, Minggu.

Dia menjelaskan, selain memanjatkan doa, maka kedatangan rombongannya ke makam Syekh Djamaluddin juga sebagai bentuk penghormatan kepada salah seorang ulama besar di Tanah Air.
"Syekh ini adalah orang suci. Ia memiliki peran cukup besar dalam menyebarluaskan syiar Islam di Tanah Air," katanya.

Kedatangan ratusan peziarah asal Depok yang terdiri dari para ulama dan ibu-ibu majelis taklim tersebut terlihat disambut secara khusus oleh pihak PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Cabang Utama Merak, La Mane, serta Ketua Yayasan Syekh Djamaluddin, Ahmad Sudrajat.

Ahmad Sudrajat mengaku bersyukur atas ramainya para peziarah yang datang ke makam syekh Djamaluddin.

"Tidak hanya dari Depok, para ulama dari berbagai penjuru negeri ini juga pernah datang kesini. Ini sebagai bentuk silaturahmi kami dengan para ulama dari berbagai daerah, selainjuga bentuk pengakuan dari masyarakat daerah lain terhadap Provinsi Banten, khususnya Kota Cilegon, sebagai daerah yang banyak melahirkan ulama besar," katanya.

Hubunungan Masyarakat Yayasan Syekh Djamaluddin, Tajudin, mengemukakan bahwa untuk mengajak masyarakat mau peduli terhadap warisan sejarah di kawasan pemakaman tersebut, maka pihak yayasan saat ini terus melakukan sosialisasi dengan mengadakan berbagai kegiatan keagamaan di lokasi wisata ziarah tersebut, seperti dzikir bersama, shalawat akbar, peringatan hari besar Islam.
"Kami berharap dengan adanya wisata ziarah, dapat mempertebal keimanan, dan lebih mendekatkan lagi kepada Sang Khalik," katanya. (*)

Sumber:
http://ratuatut.com/sudut-banten/kebudayaan/406-makam-syekh-merah-merak-ramai-dikunjungi

Syaikh Dapur / Syaikh Gofur - Kepulauan Krakatau


Sumber Photo:
http://lampungsaibertapis.blogspot.com/p/wisata.html

Kepulauan Krakatau merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir di Lampung, terutama yang di sekitar Sebesi dan Sebuku pulau, dan Canti dan desa Rajabasa di Kabupaten Lampung Selatan.

Bagi penduduk setempat, perairan di sekitar Kepulauan Krakatau tidak hanya untuk memancing tetapi dianggap sebagai perpanjangan dari masyarakat, yang mengapa keberadaan pihak asing memancing di daerah tersebut dan merusak laut di sekitar Krakatau dengan bom ikan sangat dibenci.Masyarakat nelayan tradisional yang tinggal di sepanjang pantai Lampung sangat percaya bahwa Gunung Anak Krakatau dan perairan sekitarnya dilindungi oleh "wali", yang mereka sebut Syekh Dapur, atau Syekh Gofur.


Secara historis, Syech Dapur adalah seorang ulama abad ke-17 yang memerintah daerah Kepulauan Krakatau. Dia diyakini tewas saat bermeditasi di Gunung. Rajabasa, dekat Kalianda, Lampung Selatan.


Masyarakat tradisional di Rajabasa percaya bahwa Syekh Dapur adalah penguasa daerah Krakatau. Mereka menyebut supranatural Syekh Dapur itu kekuatan Keramat Syekh Dapur, atau kuil Syekh Dapur itu.


Meskipun Syekh Dapur meninggal lama yang lalu, dan makamnya hilang dalam tsunami Krakatau pada tahun 1883, sosoknya masih diakui, terutama oleh masyarakat setempat yang sering melakukan ritual untuk menghormati ulama ketika mereka berangkat ke laut untuk ikan , atau berlayar menuju Mt. Anak Krakatau.


"Syekh Dapur akan terwujud kesaktian untuk siapa pun yang tidak percaya dengan kehadirannya melalui terjadinya gelombang besar, tidak menangkap ikan tunggal atau panggung pertunjukan di tengah laut.


"Kinerja panggung di tengah laut adalah hanya ilusi. Tetapi mereka yang tidak percaya pada kekuasaan Syekh Dapur merasa mereka menonton acara panggung yang ramai," Miftahudin, nelayan 50-tahun di desa Rajabasa , kata.


Miftahudin mengatakan bahwa untuk menunjukkan rasa hormat mereka kepada Syekh Dapur, nelayan di Kepulauan Krakatau biasanya berdoa dan diperpanjang salam mereka dengan mengatakan "Salam untuk Keramat Syekh Dapur, aku hanya melewati" ketika mereka berada di tengah laut.Dia mengatakan para nelayan percaya bahwa salam tersebut akan memberi mereka kekuatan dan keberuntungan, seperti mendapatkan tangkapan besar dan angin friendly.
"Biasanya diperlukan perahu nelayan besar sekitar enam jam untuk berlayar dari Canti ke Krakatau, tapi jika Anda tidak beruntung dan gagal untuk menghormati Syekh Dapur, perjalanan bisa memakan waktu hingga 10 jam karena angin kencang," katanya.

Warga percaya bahwa kerusakan dua kapal keruk pasir Ascho PT Unggul Pratama, yang melakukan penggalian pasir di Gunung. Anak Krakatau, merupakan pertanda buruk bagi pekerja dan perusahaan.Berita menyebar dengan cepat di antara penduduk saat dua kapal dan tongkang rusak.Kapal, dengan mana Ascho telah merencanakan untuk memompa sebanyak 3,4 juta meter kubik pasir dari Mt. Lereng Anak Krakatau, mogok selama percobaan. Awalnya, kapal akan dioperasikan sampai tiga tahun.


Atas saran dari warga setempat, pertemuan syukur diadakan pada 18 Oktober 2009, untuk meminta izin dari Syekh Dapur. Seekor kambing dikorbankan untuk menghormati Syekh Dapur selama acara yang dihadiri oleh Ascho pekerja dan penduduk pulau Sebesi.


Banyak warga juga turut hadir karena kampanye perusahaan bahwa mereka akan melakukan upaya mitigasi bencana untuk membantu masyarakat setempat dalam hal terjadi letusan."Jika kami tahu mereka telah mengambil pasir, kita akan segera didorong pembuluh keluar saat mereka tiba," kata seorang penduduk pulau Sebesi, Mukhtar.


Pembuluh Ascho dan tongkang kembali beroperasi pada 19 Oktober, tapi tiba-tiba menghentikan penggalian pasir lima hari kemudian.


"Perusahaan ini dalam posisi yang sulit, apalagi sekarang Walhi * Forum Indonesia untuk * Lingkungan dan media menyadari operasi kami di sini," kata seorang nakhoda perahu perusahaan Sebesi pulau sementara mooring kapalnya di lepas pantai Pulau Sebesi.


- Oyos Saroso H.N.


Sumber:
http://www.thejakartapost.com/news/2009/11/16/krakatau-and-syekh-dapur039s-shrine.html

Habib Husein bin Abubakar Al-Idrus

NASAB

Habib Husein bin Abubakar bin Abdullah bin Husein bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Husein bin Abdullah bin Abubakar bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Al-Ghuyyur bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khala' Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin 'Ibaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-'Uraidhi bin Jakfar Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib Suami FAthimah Az-Zahra binti Rasulullah SAW.
( Sumber: 17 Habaib Berpengaruh di Indonesia )


Habib Husein dimakamkan di Masjid Luar Batang yang terletak di Pasar Ikan, Jakarta Utara


Photo Masjid Luar Batang Tempo Dulu


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Luar_Batang


Photo Masjid Luar Batang Tempo Dulu


 Photo Masjid Luar Batang Kini



Makam Habib Husein bin Abu Bakar Al-Idrus

Wali

Walī (Bahasa Arab:الولي, Wali Allah atau Walīyu 'llāh), dalam bahasa Arab berarti adalah 'seseorang yang dipercaya' atau 'pelindung', makna secara umum menjadi 'Teman Allah' dalam kalimat walīyu 'llāh. Al Qur'an menjelaskan Waliallah memiliki arti orang yang beriman dan bertakwa. “Ingatlah sesungguh wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yg beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus 10:62 - Al-Furqan dalam kitab Majmu’atut Tauhid hal. 339)

Dari Abu Hurairah ia berkata: telah bersabda Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Alloh telah berfirman: Barangsiapa yang memusuhi Waliku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang kepadanya, dan tidaklah seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepadaKu pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan dariKu pasti Aku akan melindunginya”.

Sedangkan wali dalam kisah penyebaran Islam di nusantara, menurut konsensus para ulama dan raja waktu itu, terdapat 9 orang yang patut dianggap sebagai wali, karena mereka sangat mumpuni baik dari ilmu agama Islam maupun bobot segala jasa dan karomahnya terhadap kehidupan masyarakat dan kenegaraannya, yang dikenal dengan sebutan walisongo (sanga dalam Bahasa Jawa berarti sembilan).

Etimologi

Kata ‘wali’ bila ditinjau dari segi bahasa berasal dari kata ‘al-wilayah’ yg arti adl ‘kekuasaan’ dan ‘daerah’ sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Sikkit, atau terambil dari kata ‘al-walayah’ yg berarti pertolongan. Adapun secara terminologi menurut pengertian sebagian ulama ahlussunah, wali adalah orang yang beriman lagi bertakwa tetapi ia bukan seorang nabi. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa seluruh orang yang beriman lagi bertaqwa adalah disebut wali Allah, dan wali Allah yang paling utama adalah para nabi, yang paling utama di antara para nabi adalah para rasul, yang paling utama di antara para rasul adalah Ulul ‘azmi, yang paling utama di antara Ulul ‘azmi adalah Muhammad. Maka para wali Allah tersebut memiliki perberbedaan dalam tingkat keimanan mereka, sebagaimana mereka memiliki tingkat yang berbeda pula dalam kedekatan Mereka dengan Allah.

Dua golongan wali

Assaabiquun Almuqarrabuun (barisan terdepan dari orang-orang yang dekat dengan Allah)

Mereka yang melakukan hal-hal yang mandub (sunnah) serta menjauhi hal-hal yang makruh disamping melakukan hal-hal yang wajib. Sebagaimana lanjutan hadits: "Dan senantiasa seorang hambaku mendekatkan diri kepadaku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya."

Ashaabulyamiin (golongan kanan)

Mereka hanya cukup dengan melaksanakan hal-hal yang wajib saja serta menjauhi hal-hal yang diharamkan, tanpa melakukan hal-hal yang mandub atau menjauhi hal-hal yang makruh. Sebagaimana yang disebutkan dalam potongan hadits di atas: “Dan tidaklah seorang hambaku mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya”.

Kedua golongan ini disebutkan Allah dalan firman-Nya: “Adapun jika ia termasuk golongan yang dekat (kepada Allah). Maka dia memperoleh ketentraman dan rezki serta surga kenikmatan. Dan adapun jika ia termasuk golongan kanan. Maka keselamatan bagimu dari golongan kanan”. (Al Waaqi’ah: 88-91). Kemudian para wali itu terbagi pula menurut amalan dan perbuatan mereka kepada dua bagian; wali Allah dan wali setan. Maka untuk membedakan di antara kedua jenis wali ini dapat dilihat dari amalan seorang wali tersebut, bila amalannya benar menurut Al Quran dan sunnah maka dia adalah wali Allah sebaliknya bila amalannya penuh dengan kesyirikan dan segala bentuk bid’ah maka dia adalah wali setan.

Ciri-Ciri Wali Allah

Allah telah menyebutkan ciri para wali-Nya dalam firmannya, “Ingatlah, sesungguhnya para wali-wali Allah Mereka tidak merasa takut dan tidak pula merasa sedih. Yaitu orang-orang yang beriman lagi bertaqwa”. (Yunus: 62-63). Berikut kita akan rinci ciri-ciri dari kedua jenis wali tersebut:

Beriman

Keimanan yang yang dimilikinya tidak dicampuri oleh berbagai bentuk kesyirikan. Keimanan tersebut tidak hanya sekedar pengakuan tetapi keimanan yang mengantarkan kepada bertakwa. Landasan keimanan yang pertama adalah Dua kalimat syahadat. Maka orang yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat atau melakukan hal-hal yang membatalkan kalimat tauhid tersebut adalah bukan wali Allah. Seperti menjadikan wali sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah, atau menganggap bahwa hukum selain Islam adalah sama atau lebih baik dari hukum Islam. Atau berpendapat semua agama adalah benar. Atau berkeyakinan bahwa kenabian dan kerasulan tetap ada sampai hari kiamat bahwa Muhammad bukan penutup segala rasul dan nabi.

Bertaqwa

Ia melakukan apa yang diperintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ini yaitu melakukan hal-hal yang diwajibkan agama, ditambah lagi dengan amalan-amalan sunnah. Maka oleh sebab itu kalau ada orang yang mengaku sebagai wali, tapi ia meninggalkan beramal kepada Allah maka ia termasuk pada jenis wali yang kedua yaitu wali setan. Atau melakukan ibadah-ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Baik dalam bentuk salat maupun zikir, dll.

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Wali